Palembang, 5 – 6 Juli 2025 – Pendidikan Biologi, Program Magister, PPs Universitas Muhammadiyah Palembang sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) bersama dosen dan mahasiswa angkatan 13 dan 14. PkM dilaksanakan di daerah pemukiman warga ke Taman Nasional Berbak – Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada tanggal 5 – 6 Juli 2025. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mengusung tema yang sejalan dengan Visi Keilmuan dan Tujuan Program Magister Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Palembang. Materi yang disampaikan dalam kegiatan PkM ini ada 2, yaitu: “Transformasi Limbah Organik menjadi Eco Enzym: Edukasi Mikrobiologi Praktis untuk Lingkungan Berkelanjutan” dan “Pemanfaatan Tumbuhan Mangrove untuk Souvenir”.

PkM dimulai dengan kegiatan pretest, lalu penjelasan materi 1 dan 2, praktik, tanya jawab dan diakhiri dengan kegiatan postest. Masyarakat, terutama Ibu-ibu yang hadir dalam kegiatan PkM terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan materi maupun mengikuti kegiatan praktik sederhana yang dilakukan. Berikut rincian materi yang disampaikan dalam kegiatan PkM.

  • Transformasi Limbah Organik menjadi Eco Enzim: Edukasi Mikrobiologi Praktis untuk Lingkungan Berkelanjutan

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di lokasi PkM, ditemukan banyak sampah organik sisa yang tidak terpakai, sehingga hanya menumpuk dan mengotori lingkungan. Berangkat dari hal tersebut, maka penyampaian materi ini penting dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan kreativitas, dengan memanfaatkan sampah organik. Eco Enzim adalah cairan hasil fermentasi limbah organik seperti sisa buah dan sayur. Proses fermentasi ini dibantu oleh mikroorganisme lokal secara anaerobik (tanpa oksigen). Rasio bahan baku yang umum digunakan adalah 1 bagian gula merah: 3 bagian limbah organik: 10 bagian air. Penemu metode ini adalah Dr. Rosukon Poompanvong dari Asosiasi Pertanian Organik Thailand, yang telah meneliti eco enzim sejak tahun 1980-an. Eco enzim memiliki berbagai manfaat, mulai dari solusi pengolahan sampah organik hingga sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair, sabun cuci piring, cairan pembersih lantai, dan sabun padat. Keunggulan eco enzim terletak pada sifatnya yang ramah lingkungan (eco-friendly), mudah terurai secara hayati (biodegradable), dan mudah direplikasi. Proses pembuatan eco enzim relatif sederhana. Bahan-bahan yang dibutuhkan meliputi gula merah atau molase (tetes tebu), limbah organik (misalnya kulit buah dan sayur, namun hindari limbah berlemak seperti kulit alpikat), dan air. Bahan-bahan tersebut dicampurkan dengan perbandingan tertentu dalam wadah tertutup rapat. Penting untuk memastikan wadah hanya terisi air sekitar 60% dari kapasitasnya untuk memberikan ruang bagi proses fermentasi. Setelah pencampuran, wadah harus ditutup rapat dan disimpan di tempat teduh selama 3 bulan. Selama periode fermentasi ini, wadah tidak boleh dibuka. Setelah 3 bulan, eco enzim siap digunakan.

Kegiatan praktik pembuatan eco enzim telah dilakukan saat PkM melalui optimalisasi buah pedada sebagai bahan baku eco enzim. Tahapan kegiatan yang dilakukan meliputi: A) Melakukan pretest untuk mengetahui pemahaman awal peserta. B) Melakukan sosialisasi pemanfaatan limbah lokal yaitu buah pedada sebagai bahan baku eco enzim. C) Persiapan alat dan bahan: Setiap kelompok mengumpulkan buah pedada yang telah matang dan membusuk. Buah-buah tersebut kemudian dibersihkan dan dipotong-potong kecil untuk mempercepat proses fermentasi. Gula merah dan air disiapkan sesuai dengan perbandingan yang telah ditentukan. D) Pencampuran Bahan: Bahan-bahan (buah pedada yang telah dipotong, gula merah, dan air) dicampurkan secara merata di dalam wadah yang telah disediakan. Wadah yang digunakan harus terbuat dari bahan yang aman dan tahan terhadap proses fermentasi, seperti botol plastik atau ember. Setiap kelompok memastikan bahwa wadah hanya terisi hingga 60% kapasitasnya. E) Proses Fermentasi: Wadah yang telah terisi campuran bahan-bahan kemudian ditutup rapat dan disimpan di tempat yang teduh dan terhindar dari sinar matahari langsung. Setiap kelompok mencatat tanggal pembuatan. F) Edukasi informasi pengamatan dan evaluasi serta waktu panen. Pada pengamatan dan evaluasi, periode fermentasi selama 3 bulan, setiap kelompok mengamati perubahan warna, bau, dan tekstur cairan. Pengamatan ini bertujuan untuk memantau keberhasilan proses fermentasi dan kualitas eco enzim yang dihasilkan. Selanjutnya, setelah 3 bulan, eco enzim yang dihasilkan oleh setiap kelompok dievaluasi kualitasnya berupa pengujian aroma, dan menguji efektivitasnya sebagai pupuk organik cair pada tanaman. Kegiatan diakhiri dengan posttest untuk mengetahui progress pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Kegiatan praktik ini menunjukkan bahwa pembuatan eco enzim menggunakan buah pedada dapat dilakukan dengan mudah oleh masyarakat. Hasil eco enzim yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk organik cair yang ramah lingkungan dan dapat meningkatkan kesuburan tanah. Keberhasilan kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam mengolah limbah organik dan memanfaatkannya menjadi produk yang bermanfaat. Selain itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang mikrobiologi dan teknologi fermentasi. Masyarakat sangat antusias mengikuti praktik ini karena langkah atau prosedurnya mudah dan bahan yang digunakan banyak tersedia di sekitar tempat tinggal.

  • Pemanfaatan Tumbuhan Mangrove untuk Souvenir

Materi ini penting untuk disampaikan kepada masyarakat mengingat di lokasi sekitar ditemukan banyak buah mangrove, seperti buah pedada (Sonneratia caseolaris), nipah (Nypa fruticans), dan beberapa jenis buah mangrove lainnya, di Taman Nasional Berbak – Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Buah-buah ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis tinggi. Salah satu pemanfaatan utama adalah dalam pembuatan sabun herbal, dodol tradisional, dan pembasmi serangga alami. Sabun yang dibuat dari ekstrak buah mangrove, khususnya pedada, memiliki kandungan antibakteri dan antioksidan yang sangat baik untuk kesehatan kulit. Sabun ini dapat digunakan sebagai sabun cuci tangan dan cuci piring yang aman bagi pengguna serta tidak mencemari lingkungan karena bebas dari bahan kimia sintetis berbahaya.

Di sisi lain, buah dan daun mangrove juga memiliki senyawa bioaktif seperti tanin dan saponin, yang efektif digunakan sebagai bahan pembasmi serangga alami. Produk ini menjadi alternatif ramah lingkungan dari pestisida kimia, yang seringkali berdampak negatif terhadap kesehatan manusia dan ekosistem. Pembasmi serangga dari ekstrak daun atau buah mangrove dapat digunakan untuk mengendalikan nyamuk dan hama lainnya di lingkungan rumah maupun pertanian tanpa mencemari udara dan tanah. Pemanfaatan buah mangrove menjadi sabun, dodol, dan pembasmi serangga bukan hanya menawarkan inovasi produk yang bermanfaat, tetapi juga menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses produksi dan pemasaran, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove, sekaligus menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat diakhiri dengan pemberian doorprize dan foto bersama. Ketua Program Studi, Sekretaris, Dosen, dan mashasiswa yang hadir mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang sudah berpartisipasi dalam kegiatan, Ibu Cristin Monika, sebagai Kepala Dusun 5, dan Bapak Yunaidi, S.Si., M. A. P., selaku Kepala BTN Berbak Sembilang.